Rabu, 09 November 2022

PEMBELAJARAN PASCA PANEN UNTUK BUAH

PENDAHULUAN

      Dalam bidang pertanian istilah pasca panen diartikan sebagai “berbagai tindakan atau perlakuan yang diberikan pada hasil pertanian setelah panen sampai komoditas berada di tangan konsumen”. Secara keilmuan arti tersebut lebih tepat disebut Pasca produksi (Post production). Post production dibagi kedalam dua tahap, yaitu pasca panen (postharvest) dan pengolahan (processing). 


Penanganan pasca panen (postharvest) sering disebut juga sebagai pengolahan primer (primary processing) yaitu semua perlakuan yang dilakukan dari mulai panen sampai komoditas dapat dikonsumsi “segar” atau untuk persiapan pengolahan berikutnya. Umumnya perlakuan tersebut tidak mengubah bentuk penampilan atau penampakan. Pengolahan primer juga termasuk berbagai aspek dari pemasaran dan distribusi. Pengolahan (processing) sering disebut juga sebagai pengolahan sekunder (secondary processing) yaitu tindakan yang mengubah hasil tanaman ke kondisi lain atau bentuk lain dengan tujuan dapat tahan lebih lama (pengawetan), mencegah perubahan yang tidak dikehendaki atau untuk penggunaan lain. Pengolahan sekunder juga termasuk berbagai aspek pengolahan pangan dan pengolahan industri.

Penanganan pasca panen bertujuan agar hasil tanaman dalam kondisi baik dan sesuai / tepat untuk dapat segera dikonsumsi atau untuk bahan baku pengolahan. Prosedur penanganan pasca panen berbeda, tergantung komoditas dan tujuan produksi. • Pada tanaman semusim yang umumnya dikonsumsi segar dan mudah rusak (perishable), penanganan pasca panen bertujuan untuk :

a. mempertahankan kondisi segar 

b. mencegah perubahan-perubahan selama penyimpanan

   Perubahan yang tidak dikehendaki selama penyimpanan seperti misalnya : pertumbuhan tunas, pertumbuhan akar, batang bengkok, buah keriput, polong alot, ubi berwarna hijau (greening), terlalu matang, dan lainnya. • Perlakuan penanganan pasca panen dapat berupa: pembersihan, pencucian, pengikatan, curing, sortasi, grading, pengemasan, penyimpanan dingin, pelilinan.

    Faktor yang berpengaruh pada kerusakan hasil tanaman :

  • Faktor biologis : Respirasi, transpirasi, pertumbuhan lanjut, produksi etilen, hama penyakit. 
  • Faktor lingkungan : Temperatur, kelembaban, komposisi udara, cahaya, angin, tanah/media. 

    Penanganan pasca panen yang baik akan menekan kehilangan (losses), baik dalam kualitas maupun kuantitas, yaitu mulai dari penurunan kualitas sampai komoditas tersebut tidak layak pasar (not marketable) atau tidak layak dikonsumsi. Untuk menekan kehilangan (losses) tersebut perlu diketahui : • Sifat biologi hasil tanaman yang ditangani : struktur dan komposisi hasil tanaman. 

  • Dasar-dasar fisiologi pasca panen : respirasi, transpirasi, produksi etilen.
  • Teknologi penangan pasca panen yang sesuai

KEUNTUNGAN MELAKUKAN PASCAPANEN YANG BAIK

  • Jumlah pangan yang dapat dikonsumsi lebih banyak 
  • Lebih murah melakukan penanganan pasca panen (misal dengan penangan yang hati-hati, pengemasan) dibanding peningkatan produksi yang membutuhkan input tambahan (misal pestisida, pupuk, dan lainnya). 
  • Risiko kegagalan lebih kecil. Input yang diberikan pada peningkatan produksi bila gagal bisa berarti gagal panen. Pada penanganan pasca panen, bila gagal umumnya tidak menambah “kehilangan”
  • Waktu yang diperlukan lebih singkat. Pengaruh perlakuan untuk peningkatan produksi baru terlihat 1 – 3 bulan kemudian, yaitu saat panen. Sementara pengaruh penanganan pasca panen dapat terlihat 1 – 7 hari setelah perlakuan. 
  •  Meningkatkan nutrisi Melakukan penanganan pasca panen yang baik dapat mencegah kehilangan nutrisi, yang berarti perbaikan nutrisi bagi masyarakat. Perubahan-perubahan yang terjadi pada pasca panen hasil tanaman tidak dapat dihentikan, tetapi hanya dapat diperlambat.

PENANGANAN PASCAPANEN


    Umumnya meliputi kegiatan sebagai berikut: 
a. Grading (pengkelasan) dan standarisasi 
b. Pengemasan dan pelabelan 
c. Penyimpanan 
d. Pengangkutan 
   Pada beberapa komoditas ada yang diberi perlakuan tambahan antara lain : pemberian bahan kimia, pelilinan, pemeraman.

Grading dan Standarisasi

Grading adalah pemilahan berdasarkan kelas kualitas. 
  • Tujuan grading : memberikan nilai lebih (harga yang lebih tinggi) untuk kualitas yang lebih baik. 
  • Biasanya dibagi dalam kelas 1, kelas 2, kelas 3 dst, atau kelas A, kelas B, kelas C dst. Pada beberapa komoditas ada kelas super-nya.
  • Standard (kriteria) yang digunakan untuk pemilahan dari masing-masing kualitas tergantung dari permintaan pasar.
Standarisasi merupakan ketentuan mengenai kualitas atau kondisi komoditas berikut kemasannya yang dibuat untuk kelancaran tataniaga/pemasaran.
 • Standarisasi pada dasarnya dibuat atas persetujuan antara konsumen dan produsen, dapat mencakup kelompok tertentu atau wilayah/negara/daerah pemasaran tertentu.

Pengemasan


Hal-hal yang harus diperhatikan dalam melakukan pengemasan :
• Dilakukan dengan hati-hati terutama mencegah terluka, terjatuh atau kerusakan lain.
• Hanya komoditas yang baik yang dikemas (melalui sortasi). 
• Tempat pengemasan harus bersih dan hindari kontaminasi 
• Kontainer atau wadah dan bahan pengemas lain, juga “pengisi” atau pelindung, harus bersih
• untuk yang tidak “didaur pakai” seperti kardus, plastik transparan dll, harus yang baru. 
• Pengemasan pada beberapa komoditas dilakukan setelah precooling . Pengemasan sebaiknya dilakukan pada tiap grad kualitas secara terpisah. 
• Bahan pengemas harus kuat, sesuai dengan sifat dan kondisi produk yang dikemas dan lama penyimpanan/pengangkutan. 

Keuntungan dari pengemasan yang baik: 
a. Melindungi komoditas dari kerusakan 
• Melindungi dari kerusakan mekanis : gesekan, tekanan, getaran 
• Melindungi dari pengaruh lingkungan : temperatur, kelembaban, angin 
• Melindungi dari kotoran / pencemaran : sanitasi 
• Melindungi dari kehilangan (pencurian) : memudahkan pengontrolan 
b. Memudahkan penanganan 
c. Meningkatkan pelayanan dalam pemasaran 
• Praktis untuk konsumen (pengemasan dalam ukuran kecil) 
• Lebih menarik 
• Dapat untuk menyampaikan informasi produk yang dikemas, cara penggunaan dan cara melindungi produk yang dikemas d. Mengurangi / menekan biaya transportasi.

Penyimpanan 


Tujuan penyimpanan : 
• Memperpanjang kegunaan (dalam beberapa kasus, meningkatkan kualitas) 
• Mempertahankan kualiatas dari komoditas yang disimpan 
• Menampung produk yang melimpah 
• Menyediakan komoditas tertentu sepanjang tahun 
• Membantu dalam pengaturan pemasaran 
• Meningkatkan keuntungan finansial bagi produsen

Prinsip dari perlakuan penyimpanan : 
• Mengendalikan laju transpirasi 
• Mengendalikan repirasi 
• Mengendalikan / mencegah serangan penyakit.

Lama penyimpanan (ketahanan simpan) dapat diperpanjang dengan : 
• Mengontrol penyakit yang timbul setelah panen 
• Mengatur kondisi atmosfer (C.A. storage) 
• Perlakuan kimia (chemical treatment) 
• Perlakuan penyinaran (irradiation) 
• Penyimpanan dingin (refrigeration) 
• Mencegah perubahan-perubahan yang tidak dikehendaki konsumen

Faktor yang berpengaruh pada keberhasilan penyimpanan : 
• Perlakuan sebelum panen 
• Panen dan penanganan panen 
• Precooling 
• Kebersihan 
• Varietas/kultivar hasil tanaman dan tingkat kematangannya.

Pengangkutan




Pengangkutan dapat juga diartikan sebagai penyimpanan berjalan. Semua kondisi penyimpanan pada komoditas yang diangkut harus diterapkan. Faktor pengangkutan yang perlu diperhatikan adalah:
• Fasilitas angkutannya 
• Jarak yang ditempuh atau lama perjalanan 
• Kondisi jalan dan kondisi lingkungan selama pengangkutan 
• Perlakuan “bongkar-muat” yang diterapkan.

3 komentar:

  LAPORAN PRAKTIKUM   FISIOLOGI TANAMAN “ DORMANSI DAN PERKECAMBAHAN BIJI ” Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mata Kulia...